Coffee

138 words.
inspired by this
library!au

*

“Kau membawa kopi lagi!”

Kihyun tersentak mendengar suara Aera. Ia hampir menjatuhkan kaleng kopinya.

“Ini sudah kedua kalinya,” lanjut Aera.

Kihyun membenarkan kacamatanya sambil tersenyum kaku kepada Aera. “Maaf, nuna. Ini terakhir kalinya. Aku janji!”

“Benar, ya? Kalau kau mengulanginya lagi, aku akan mengusirmu,” Aera menghela nafas. “Kalau aku ketahuan melakukan ini, mereka akan memotong gajiku…”

Kihyun terdiam. Ragu-ragu untuk membuka kopinya. Ia merasa tidak enak dengan Aera. Memang seharusnya ia merasa seperti itu.

Kihyun memasukan kaleng kopinya ke dalam tas. Aera yang melihat itu tersenyum kecil.

“Nuna, sebagai gantinya…” Kihyun menatap Aera sambil memikirkan apa yang harus ia katakan. “…kita akan kencan di café besok!”

Deal!”

Tunggu, kencan?

“Eh- aku tidak bermaksud untuk bilang itu!” kata Aera, panik.

Kihyun terkekeh. “Kau tidak bisa menarik kembali ucapanmu. Kita akan kencan besok.”

Aera mengerucutkan bibirnya. “Baiklah, baiklah. Kau menang!”

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s