The Bet

343 words

*

“Pinjam pulpen, dong.”

Juyeon yang sedang menyalin catatan pun mendongak setelah mendengar suara yang tidak asing di telinganya dan menatap Baekhyun sinis. “Mana pulpenku yang kemarin?”

Baekhyun terdiam sambil memikirkan kejadian kemarin. “Ah, ketinggalan dirumah,” katanya sambil tersenyum konyol.

“Kau bohong.”

“Apa?!” seru Baekhyun, terkejut karena Juyeon menuduhnya berbohong. “Aku mengatakan yang sebenarnya!”

Juyeon menatap Baekhyun dengan penuh keraguan dengan ucapannya. Baekhyun pun membalas dengan menatap tajam gadis itu.

“Kau itu sudah dipinjampkan tapi malah menghilangkan! Kau kira pulpen adalah barang yang bisa ditelantarkan seenaknya?” Juyeon mulai menceramahi Baekhyun panjang lebar.

“Ugh, aku tidak menghilangkan pulpenmu!” seru Baekhyun, mulai frustasi dengan Juyeon. “Jika pulpen itu masih ada di aku, kau harus traktir aku makan. Kau setuju?”

“Siapa takut!” tantang Juyeon.

Esoknya, Baekhyun datang ke sekolah dengan perasaan bahagia karena ia akan mendapat makanan gratis dari Juyeon. Ia menyimpan pulpen milik Juyeon di tempat paling tersembunyi di dalam tasnya. Saat sampai di kelas, Baekhyun tidak melihat keberadaan Juyeon. Ia pun akhirnya mengetahui kalau Juyeon tidak masuk hari itu.

“Huh, dia malah kabur. Tidak bertanggung jawab,” dengus Baekhyun. Ia tidak mengira Juyeon akan lari dari janjinya kemarin.

Hari itu, Baekhyun menggunakan pulpen Juyeon untuk mencatat dan mengerjakan tugas. Tak sengaja, ia pun menjatuhkan pulpen tersebut dan saat mengambilnya, ia menyadari adanya sesuatu di dalam laci mejanya yang selalu kosong. Baekhyun akhirnya sadar bahwa di dalam lacinya terdapat sebuah kotak makan dan secarik kertas. Ia mengambil kertas tersebut yang ternyata adalah sebuah surat. Surat dari Juyeon.

Hari ini aku tidak bisa masuk dan aku minta maaf karena telah menuduhmu. Aku tahu kau bukan orang yang suka berbohong. Aku sengaja datang pagi-pagi untuk menaruh ini di dalam laci mejamu. Aku baik, kan? Selamat menikmati kimbapnya.

P.s: bukan buatanku. -J.

Baekhyun hampir tertawa saat membaca surat singkat tersebut. Ia pun mengambil kotak makan yang di dalamnya terdapat potongan-potongan kimbap segar. Pada saat itu, ia sadar bahwa Juyeon bukan orang seperti yang ia kira tadi, sehingga ia langsung menyesal dan merasa bersalah karena telah mencaci gadis itu. Namun Baekhyun senang karena ia tahu bahwa ia akan menghabiskan kimbap sendirian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s