December Vibes: Falling for You – Suho

697 words

*

“I’ve been waiting a whole year for this day.
I feel like I’ve been frozen,
I will muster up courage and approach you today”

*

Jika orang-orang berhenti sejenak untuk mengabadikan momen salju pertama yang baru saja turun, Junmyeon malah berlari dengan cepat tanpa menghiraukan salju. Yang dipikirannya sekarang hanyalah gadis yang ia sukai, yaitu seniornya yang bernama Hojung.

Musim dingin tahun lalu, Junmyeon bertemu Hojung untuk pertama kalinya. Semenjak itu keduanya sering bertemu dan Junmyeon pun mulai menyukai gadis itu. Selama beberapa bulan ia mendekati Hojung dan ia pun berhasil, mereka bahkan sudah berbicara secara informil. Meski begitu, Junmyeon belum memberitahu perasaannya kepada Hojung.

Sejak dulu, Junmyeon selalu ingin menyatakan perasaannya kepada gadis yang ia sukai saat salju pertama turun. Masalahnya di tahun ini, salju pertama di bulan Desember turun saat ia tidak sedang bersama Hojung.

Junmyeon berlari masuk ke dalam perpustakaan kampus untuk mencari Hojung di setiap sudut, namun ia tidak melihat gadis itu. Kemudian ia berlari ke dalam gedung fakultas tempat Hojung biasa belajar dan mencari di setiap kelas, hasilnya nihil.

Karena telah lama berlari, napas Junmyeon pun terengah-engah dan ia memutuskan untuk berjalan ke mini market terdekat untuk duduk dan membeli kopi. Ia bisa saja pergi ke kafe untuk membeli kopi, namun saat itu ia tidak membawa uang banyak.

Setelah membayar kopinya, Junmyeon duduk di kursi yang menghadap ke jalanan. Ia meneguk kopinya sambil melihat salju yang turun. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia mengambil ponselnya dari dalam saku dan membaca pesan masuk yang ternyata dari Hojung.

Ia menghela napas berat karena kebodohannya yaitu ia sama sekali lupa dengan keberadaan ponsel dan seharusnya ia bisa menelepon Hojung tanpa harus merasa lelah.

Hojung mengirimi pesan singkat yang membuat Junmyeon tersenyum;

Salju pertama! ^o^

Pikiran Junmyeon pun mendorong jarinya untuk memencet logo telepon. Namun saat jarinya sudah sangat dekat dengan layar ponselnya, jarinya menjadi kaku. Ia ragu-ragu untuk menelepon Hojung.

Tiba-tiba Hojung meneleponnya, membuatnya terkejut dan nyaris menjatuhkan ponselnya. Ia mengambil napas beberapa kali sebelum akhirnya ia mengangkat.

“Nuna!”

“Junmyeon-ah! Kau dimana?”

“Kenapa, nuna?” Junmyeon balik bertanya.

“Aku sedang di luar dan salju tiba-tiba turun. Entah mengapa aku ingin jalan-jalan tapi tidak ada teman.”

“Oh,” kata Junmyeon lalu tertawa kecil. “Aku di mini market dekat kampus.”

Tawa Hojung bisa terdengar di seberang telepon. “Haruskah aku kesana?”

“Jangan, nuna! Kau dimana?” tanya Junmyeon sambil beranjak dari kursinya. Ia membuang sampahnya dan berjalan keluar mini market.

“Aku di depan perpustakaan kampus.”

“Apa? Tapi aku tidak melihatmu tadi!”

“Apa?”

Menyadari kesalahannya, Junmyeon langsung memukul-mukul pelan bibirnya. “Nuna, aku sedang jalan kesana.”

“Aku akan menunggumu di dalam.”

Junmyeon pun langsung berlari menuju perpustakaan. Ia tidak mau Hojung menunggu sendirian terlalu lama disana.

Tak lama kemudian, Junmyeon sudah sampai di depan perpustakaan dan langsung masuk ke dalam tanpa ragu-ragu. Ia melihat Hojung sedang duduk di salah satu kursi. Ia pun menepuk pundak Hojung pelan dan gadis itu menoleh kearahnya lalu tersenyum. Keduanya pun berjalan berdampingan keluar perpustakaan.

“Dingin sekali,” kata Hojung saat mereka berada di luar.

Sambil berjalan, Junmyeon menatap Hojung yang sedang menggosokan kedua tangannya. Entah mengapa, tiba-tiba tangannya meraih tangan kiri Hojung dan menggenggam tangan tersebut. Hojung hanya terdiam sambil menatap tangannya yang dibalut tangan hangat Junmyeon.

“M-maaf,” ucap Junmyeon sambil melepas tangan Hojung dari genggamannya. Wajahnya pun memerah.

Hojung tertawa kecil lalu tangan kirinya meraih tangan kanan Junmyeon. “Begini jauh lebih baik.”

Junmyeon tersenyum. Tanpa ragu-ragu Hojung pun membuat tangan kanannya ikut ke dalam genggaman, otomatis membuat tubuhnya menepel dengan tubuh Junmyeon. Mereka terdiam beberapa menit sampai akhirnya Junmyeon memecah keheningan.

“Nuna,” panggil Junmyeon.

“Hm?”

“Aku menyukaimu.”

Hojung terdiam beberapa saat lalu ia pun tersenyum. Bukannya menjawab, Hojung malah mendaratkan ciuman di pipi Junmyeon yang memerah. Hal itu membuat Junmyeon tersenyum.

“Wajahmu merah sekali,” canda Hojung. Kemudian ia mendekatkan bibirnya ke telinga Junmyeon untuk membisikan sesuatu. “Aku juga sudah lama menyukaimu. Bukan, aku mencintaimu.”

Junmyeon tersenyum senang. Ia merasa satu tahun ia menunggu tidak terbuang sia-sia.

“Mau minum kopi?” tanya Hojung saat ia melihat kafe di dekat mereka.

“Aku tidak punya uang…” jawab Junmyeon malu. Ia merasa tidak enak karena ia berpikiran bahwa laki-laki yang seharusnya membayar semua jika bersama seorang gadis.

Hojung tertawa. “Aku akan mentraktirmu! Dan kita harus merayakan hari pertama kita bersama.”

Hari pertama, ucap Junmyeon dalam hati lalu tersenyum malu. Ia menoleh ke Hojung dan mengangguk. Sementara itu Hojung yang sangat bersemangat langsung berlari ke kafe sambil menarik tangan Junmyeon.

*

the end.

author’s note: i have to admit that this is so cliché but i’m a master at cliché stories so yeah xD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s