Hujan

on

213 words

*

Betapa sialnya aku, pulang sekolah malah hujan deras dan aku tidak membawa payung. Seharusnya aku mendengarkan kata eomma tadi pagi yang menyuruhku membawa payung. Aku tidak melakukan itu karena tadi pagi sangat cerah dan aku tidak menyangka akan hujan pada sore harinya.

Aku menghela napas saat melihat orang-orang dengan santainya berjalan pulang sambil memegang payung mereka. Melihat hujannya, aku tahu ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Jadi aku kembali masuk ke lobi sekolah lalu duduk di tangga sambil menunggu hujan berhenti.

Tak lama kemudian, aku melihat seorang laki-laki yang tidak memakai seragam sekolah dan memegang payung sedang berdiri di luar sekolahku. Aku tahu itu adalah Sehun. Aku tersenyum lalu berlari menghampirinya.

“Kenapa kau disini, oppa?” tanyaku sambil menggenggam tangannya. Padahal sudah sangat jelas mengapa dia ada disini sekarang.

“Tentu saja aku disini untuk menjemputmu,” jawab Sehun sambil tertawa kecil. “Oh iya, sebelum sampai ke rumahmu, aku akan membelikanmu kopi.”

“Yay! Aku sayang oppa!” seruku sambil memeluknya.

“Hei, semua orang melihat!” kata Sehun sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh ke belakang karena pelukanku yang terlalu bersemangat.

Sorry,” ucapku sambil tersenyum seperti tidak melakukan kesalahan. Aku pun melepas pelukanku dan kembali menggenggam tangannya. “Ayo pergi!”

Sehun hanya tertawa melihatku lalu kami berjalan bersama di bawah payung yang menjadi penghalang air hujan yang turun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s